Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. “Pak, sekolah hingga
S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya,
tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan
beasiswa ini. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, saya bahagia
dengan keadaan ini, saya tidak memiliki ambisi besar. Saya hanya senang
belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih. Saya akan dengan sangat
ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu
rumah tangga. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus
sekolah? Saya takut itu semua menjadi mubadzir, karena mungkin ada hal
lain yang lebih baik untuk saya jalani...”
Sang dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan
yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.
Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka
hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini.
Akhirnya jawaban terbersit dalam pikirannya. Dosen inipun menjawab
dengan mengajukan pertanyaan pancingan, “Dek, sekarang bertanyalah
kepada hati kecilmu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan
pendidikan ini hingga puncak nanti?” Sang mahasiswi bingung, dia
menunduk, air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan
konflik hati yang sangat besar, yang saling ingin meniadakan.
Sang dosen lantas melanjutkan pertanyaannya, “Dek, saya ingin bertanya
kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S2 dan S3
dan mendapat ilmu darinya?” “Sejak saya kuliah di ITB, Pak.” Jawab sang
mahasiswi. Kemudian dosen itu melanjutkan, ”Ya dek, betul, saya pun
demikian. Saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah
di kampus ini. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki
anak, maka orang pertama yang akan mengusap rambut anakmu adalah seorang
lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang
ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan
dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti. Apakah
engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau
lahirkan nanti..”
Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, ia tersenyum bahagia,
sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri,
mengucapkan terima kasih kepada sang dosen, dan berkata, “Pak, terima
kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak
lagi yang menghalangi saya..”
Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang
yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukurmu lah yang akan
menjadi kebahagiaan yang hakiki,.
*dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar